Rabu, 18 November 2009

REZEKI ANAK DALAM AGENDA PENERIMAAN KARYAWAN

16 Juni 2003 jam:10:00wib
Seleksi karyawan sebanyak 132 pelamar
tes,psikotes tempat ruang meeting

18 Juni 2003 jam:14:00wib
seleksi wawancara tempat ruang meeting
catatan::pertanyaan seputar pengalaman kerja sebelumnya
::seputar hobi dan status dalam keluarga,diminta menunjukkan kartu tanda pengenal(KTP)
::ini yang aneh,pertanyaan tentang kesiapan di tempatkan di area fresh yang katanya melelahkan
::gugur 9 orang pelamar


30 Juni 2003 jam:09:00wib
tes kesehatan di klinik DARMA MULIA,alamat jln,Raya Bekasi km,18
Pulo Gadung-Jakarta Timur
catatan:sambil menunggu antrian tes dari para calon karyawan...disini aku sempat tertidur walau posisiku sedang duduk,lalu di bangunkan oleh teman yang lain,pada saat masuk keruang pemeriksaan kesehatan,aku di tegur petugas,tadi habis tertidurya mas?...lalu ku jawab iya,pak,karena semalam sya habis menunggu proses persalinan anak pertama,sampai begadang di RS,Budi Lestari,dan tidak sempat tidur.petugas kesehatan itu menimpaliitu yang namanya rezeki anak mas!
hmmmm(gumamku)

02 Juli 2003 jam:09:00wib
ke Gatot Subroto,gedung Hero 2,lantai 4
agenda ::periksa kelengkapan administrasi lamaran dengan menunjukkan dokumen asli
::Tanda tangan kontrak/training saat itu HRD pusat dengan ibu Wiwie dan ibu Echi

catatan:disini ada beberapa teman yang tidak di perkenankan untuk tanda tangan kontrak/training,karena;di temukan dokumen tidak falid; adik dan kakak melamar dalam pekerjaan yang sama; tidak membawa dokumen yang diminta tapianehnya ada yang lolos seleksi tanpa membawa dokumen dengan alasan tertinggal di kampung,sungguh inilah kehendak Yang Maha Kuasa!
gugur 2 orang pelamar.


03,04,05,06 Juli 2003 jam:07:00wib
Training di Cimanggis departemen RTE,DIVISI fresh
agenda ::hari pertama terlambat karena sempat kesasar,tapi lancar, langsung praktek kerja
! pulang malam
::hari kedua mulai flexibel,lancar pulang kerja sempat tertidur di mobil.
::hari ketiga tantangan mulai di rasa saat ga punya ongkos,maklum awal kerja ga megang duit sepeserpun,yang ada baru ngeluarin pengeluaran besar,yakni paska istri melahirkan sesar! tapi,tetep masuk kerja walau pikiran ga menentu.
::hari keempat,gaenak di tulis karena:ga masuk kerja/mangkir...di ganti upaya mencari pinjaman untuk bertahan hidup beberapa minggu ke depan,+bayar hutang sisa-sisa biaya melahirkan,saat itu tujuanya kerumah saudara yang tinggal di Bogor.

07 Juli 2003
terima seragam+penggantian uang transfort selama training dari HRD,pak,SETIAWAN
agenda mulai bekerja selama sebulan penuh absen masuk pagi.


tentang wanita

“Jangan engkau nikahi wanita yang enam, jangan yang ananah, yang mananah, dan yang hananah, dan jangan engkau nikahi yang hadaqah, yang baraqah dan yang syadaqah.”
1. Wanita Ananah: banyak mengeluh dan mengadu dan tiap saat dibuat-buat sakit.
2. Wanita Mananah: suka membangkit-bangkit terhadap suami. Wanita ini sering menyatakan, “Aku membuat itu karenamu”.
3. Wanita Hananah: menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dinikahinya sebelum ini atau kepada anaknya dari suami yang lain.
4. Wanita Hadaqah: melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya.
5. Wanita Baraqah: ada 2 makna, pertama yang sepanjang hari mengilatkan dan menghias mukanya, kedua dia marah ketika makan dan tidak mau makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagianya.
6. Wanita Syadaqah: banyak cakap tidak menentu lagi bising.


Wanita : Akal Setipis Rambutnya
Jangankan lelaki biasa, nabi pun terasa sunyi tanpa wanita.
Tanpa mereka, fikiran dan perasaan lelaki akan resah.
Masih mencari walau ada segalanya.
Apa yang tiada dalam surga?
Namun adam tetap rindukan hawa.
Dijadikan wanita daripada tulang rusuk yang bengkok.
Untuk diluruskan oleh lelaki.
Tetapi seandainya lelaki itu sendiri tidak lurus,
Mana mungkin kayu yang bengkok menghasilkan bayang yang lurus.
Luruskanlah wanita dengan jalan yang ditunjuk oleh Allah,
Karena mereka diciptakan sebegitu rupa oleh Allah.
Didiklah mereka dengan panduan darinya.
Jangan coba menjinakkan mereka dengan harta, karena nantinya mereka semakin liar.
Janganlah hiburkan mereka dengan kecantikan, karena nantinya mereka akan semakin derita.
Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal. Di situlah puncak kekuatan dunia.
Akal setipis rambutnya, tebalkanlah ia dengan ilmu.
Hati serapuh kaca, kuatkanlah ia dengan iman...
Perasaan selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak.
Suburkanlah ia karena dari situlah nantinya...
Mereka akan lihat nilai dan keadilan Rabb...
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan..
Ia bukan diskriminasi Allah... sebaliknya di situlah kasih dan sayang Allah...
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya...
Pasti tidak akan terhibur, dan tidak akan menghiburkan...
Tanpa iman, ilmu dan akhlak..mereka tidak akan lurus...
Bahkan akan semakin membengkok...
Itulah hakikatnya andai wanita tidak kenal Rabbnya...
Bila wanita menjadi durhaka... pasti dunia lelaki akan menjadi huru hara....
Lelaki pula janganlah mengharapkan ketaatan semata-mata...
Tapi binalah kepimpinan...
Pastikan sebelum wanita menuju ilahi, pimpinlah diri kepadanya...
Jinakkan diri kepada allah...
Niscaya akan jinaklah segala-galanya di bawah pimpinanmu...
Janganlah mengharapkan isteri semulia Fatimah Az-Zahra'
Seandainya dirimu tidak sehebat saidina Ali karamallahuwajhah

http://www.pencerahanhati.com/index.php?option=com_myblog&show=ternyata-laki-laki-tidak-suka-.html&Itemid=82 (reply)

Senin, 16 November 2009

kronologis diam



السلام عليكم ورحمةالله وبركاته.

Apa yang membuat seseorang bisa awet bekerja di pekerjaannya?...sudah di pastikan salah satunya adalah suasana kerja yang kondusif.Berapa lamapun kita bekerja di suatu tempat,amat naif rasanya kalo kita tidak membutuhkan gaji yang layak???...mungkin ini bisa bisa di sederhanakan dengan mensyukuri apa yang sudah kita terima,sekarang ini.Bila kita bayangkan masih banyak pengangguran diluar sana,yang membutuhkan pekerjaan walau gaji tidak sepadan asalkan kerja,tentu status pengangguaran copot dari jejeran namanya.

Bagaimana bila dalam perjalanan waktu,di dalam pekerjaan ada gesekan dengan rekan kerja/atasan?...inilah salah satu faktor yang mempengaruhi suasana dalam bekerja mulai tidak lagi kondusif hal ini aku mulai alami lagi untuk yang ke dua kalinya setelah ada gesekan dengan atasanku,dua tahun yang lalu,sangat patal karena menyinggung arti dari sebuah harga diri solusinya aku ambil keputusan untuk tidak lagi jadi rekanan kerja,karena amat tidak mungkin kalo aku ambil keputusan resent,ya rolling/pindah divisi masalah ini walau tidak sepenuhnya selesai ,tapi sedikit mengurangi gesekan tadi.

Kini,hanya sebuah pengharapan dan permintaan terjadi kesalah pahaman,kecil masalahnya,tapi cukup mempengaruhi suasana kerja,sedikit demi sedikit lambat laun menjadi sebuah kebencian yang tidak beralaskan?...ingat ada istilahapi dalam sekam,pengharapan itu adalah manakala rekan kerja memahami aku walau sedikit,ya memahami mengapa sekarang aku begitu konsen dengan keluarga,karena aku sendiri berusaha untuk tidak egois.melihat istri menggendong anakku yang bontot kini berusia 2tahun,berjalan kaki hanya untuk menjemput anak(pertama) sekolah,dengan waktu tempuh kurang lebih 25menitan,bisa di bayangakan?...untuk yang punya rasa sayang dengan keluarga...aku rasanya tidak tega,kalau istriku harus susah payah sedemikian,belum lagi waktu masak agak tertunda,jajan si bontot di luar sana?...tapi,kalau dia(istriku) naik transfortasi,yang ada cuma ojek.lain dari itu tidak ada angkot,konsekuensinya budget anggaran bertambah,posisi seperti ini isriku merasa kasihan denganku yang bergajikan menengah ke bawah.

Aku berharap fartner kerjaku memahami kondisiku,karena asumsiku dia tidak direpotkan urusan rumah tangga,sepertiku,anak di titipka saudaranya di urus di kampung,hidup hanya berdua,apakah salah aku berharap kepadanya?...yang sekali lagi ku pikir tidak terlalu direpotkan dengan keluarga,mungkin hanya bayangan berat atau ringan dalam kerjaan,tapi apa harapan seperti fatamorgana,yang menjanjikan tapi kenyataan pahit yang ku terima,di ponis seperti anak kecil hakim saja untuk memonis terdakwa harus melalui persidangan,tapi ini begitu mudahnya.Curhat dengan teman hanya,memberatkan dakwaan saja,curhat tanpa solusi

Untukmu prmimpin,entah ini curhatku,testimoni atau kronologis awal tidak kondusif itu muncul?...aku cuma bisa berharap pengertianya,akankah setip gesekan yang terjadi di selesaikan dengan menjauh?...


catatan:inti permasalahannya adalah komplain terhadap request absen,yang sebelumnya itu tidak pernah terdengar olehku,dan itu ku anggap sebuah pengertian yang luar biasa.tiba-tiba sekarang menjadi persoalan dimana fartner yang sesungguhnya jikalau aku siang,dia yang pagi,begitu juga sebaliknya! tanpa kuperhitungkan yang lainnya.dan kini dia kena rolling,timbulah masalah ini.

ditulis oleh:abu Qoulan
17 Nov 2009

Sabtu, 14 November 2009

PERCAKAPAN IBLIS LAKNATTULLOH DENGAN NABI MUHAMMAD.S.A.W

Demi Tuhan, sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca Al Qur`an, yang malas maupun yang rajin beribadah, kecuali HAMBA2 ALLAH YANG IKHLAS (murni semata2 krn ALLAH SWT)”
“Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah yang mukhlis ?”
Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka harta dan suka dipuji maka ia belum murni karena Allah. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sementara hatinya selalu bergantung pada kesenangan dunia, maka ia lebih taat kepadaku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar ? kemudian cinta kedudukan adalah dosa besar juga. Saya
mempunyai tujuh puluh ribu anak, sedangkan tiap anak dari jumlah itu memiliki tujuhpuluh ribu setan. Diantara mereka ada yang saya tugaskan untuk menggoda ulama, menggoda para pemuda, menggoda orang tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Diantara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang yang tekun beribadah, menggoda orang yang zuhud. Mereka keluar masuk dari kondisi yang
berbeda, dari satu pintu ke pintu lainnya, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun.
Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehinga mereka beribadah tidak karena Allah, sementara mereka tidak merasakan itu. Apakah engkau lupa wahai Muhammad kisah seorang rahib yang berbuat ikhlas selama tujuhpuluh tahun, sehingga dengan do’anya ia bisa menyembuhkan penyakit ? Akan tetapi saya tak pernah putus asa menggodanya sampai ia sempat berbuat zina dan membunuhnya dan akhirnya ia mati dalam keadaan kafir. Itu semua berkat saya Muhammad. Kebohongan itu berasal dari saya, saya adalah mahluk yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa yang bersumpah atas nama Allah dengan berbohong maka ia kekasihku. Menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku. Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya adalah haram baginya. Kemudian dari pasangan itu menghasilkan keturunan haram. Sehingga semuanya masuk neraka gara-gara satu ucapan.

Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan menganggunya, “masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan.’ Sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat diluar waktunya. Akibatnya ia akan memikul dosanya kelak. Kalau saya kalah, maka saya akan mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkannya. Kalau saya masih kalah juga, maka saya diamkan sampai ia melakukan shalat. Ketika dalam shalatnya saya berkata `meliriklah ke kanan dan ke kiri’, akhirnya ia melirik. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya.
Wahai Muhammad engkau tahu kalau seseorang banyak melirik dalam shalatnya akan menanggung dosanya. Kalau dalam shalat ia mampu mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya akan buat ia tergesa-gesa. Ia seperti ayam yang sedang makan, begitu tergesa-gesa. Kalau dalam shalat berjamaah, ia akan saya buat mendahului imam karena kepalanya saya tarik. Jika saya masih kalah juga, maka saya perintahkan meremas jemarinya sehingga bersuara, sesungguhnya ia termasuk orang yang bertasbih kepadaku. Kalau ia masih mempan juga, maka saya tiup hidungnya sehingga dia menguap. Saat itulah anak-anak saya masuk, dan ia makin rakus akan dunia dan berbagai perangkapnya.

Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai Muhammad, sedangkan saya memerintahkan orang miskin untuk tidak shalat, dan saya berkata padanya `shalat hanya kewajiban orang yang diberi nikmat’. Kemudian untuk orang sakit, akan saya buat ia terlena dengan salah satu ayat Allah, “………..dan tidak apa-apa bagi seorang yang sakit” (An Nur:61)”, padahal tidak apa-apa disini menyangkut tata cara normalnya, bukan tidak apa-apa untuk meninggalkan shalat. Sehingga ia merasa aman ketika meninggalkan shalat, padahal jika ia mati saat itu juga, ia termasuk orang yang kafir dan Allah sunguh akan memurkainya
Bagaimana engkau merasa bahagia atas ummatmu wahai Muhammad, sedangkan saya bisa memurtadkan seperenam ummatmu ?”
Kemudian Rasulullah meneruskan pertanyaan, “Wahai mahluk terkutuk, siapa teman dudukmu ?”
“Orang yang suka makan riba”
“Lalu siapa teman dekatmu ?”
“Orang yang berzina”
“Siapa teman tidurmu ?”
“Orang yang mabuk”
“Siapa tamumu ?”
“Pencuri”
“Siapa utusanmu ?”
“Dukun, tukang sihir”
“Apa yang menyenangkan pandangan matamu ?”
“Orang yang bersumpah dengan talak”
“Siapa kekasihmu ?”
“Orang yang meninggalkan shalat Jum`at”
“Wahai mahluk terkutuk, apa yang menyebabkan punggungmu patah ?”
“Suara ringkik kuda untuk berperang di jalan Allah”
“Apa yang menjadikan tubuhmu meleleh ?”
“Tobatnya orang yang bertobat”
“Apa yang membuat hatimu panas ?”
“Orang yang beristigfar kepada Allah, baik siang maupun malam”
“Apa yang membuatmu merasa malu dan hina ?”
“Sedekah secara rahasia”
“Apa yang menyebabkan matamu buta ?”
“Shalat sunnah sebelum subuh”
“Apa yang dapat membuat pecah kepalamu ?”
“Shalat berjamaah”
“Siapa orang yang bisa membahagiakanmu ?”
“Orang yang meninggalkan shalat”
“Siapa orang yang celaka menurut engkau ?”
“Orang yang dermawan atas nama Allah”
“Apa yang menyita pekerjaanmu ?”
“Majelis Ta`lim”
“Bagaimana engkau makan ?”
“Dengan tangan kiri dan jemariku”
“Dimana engkau berteduh ketika panas ?”
“Di bawah kuku manusia”
“Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Allah ?”
“Sepuluh macam”
“Apa saja itu wahai mahluk terkutuk ?”
“Saya meminta agar saya bisa berserikat dengan anak cucu Adam dalam harta dan kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan berilah janji mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan kepada mereka melainkan tipuan belaka”
(Al Isra’ : 64).
Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya akan ikut memakannya. Saya juga ikut memakan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala macam harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari saya yang terkutuk. Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka saya akan ikut bersetubuh....Allohualam bi showab

SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN SHOLAT IDUL ADHA

ANJURAN MENINGKATKAN IBADAH PADA SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN SHALAT IDUL ADHA

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci) dimana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an,
Allah SWT berfirman:
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu” (QS Al-Fajr 1-4)

Allah SWT. bersumpah dengan lima makhluk-Nya, bersumpah dengan waktu fajar, malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil dan malam ketika berlalu. Dan para ulama tafsir seperti, Ibnu Abbas ra, Ibnu Zubair ra, Mujahid ra, As-Sudy ra, Al-Kalby ra. menafsirkan maksud malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena keutamaan beribadah pada hari tersebut, sebagaimana hadits Rasul saw, :

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya Rasulallah saw, tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?“ Rasul saw. menjawab, ”Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid.” (HR.Bukhari)

AMAL SHALIH DI SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH
1. Takbir, Tahlil dan Tahmid

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS Al-Baqarah)
Jumhur ulama sepakat bahwa beberapa hari berbilang adalah hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Imam Al-Bukhari memasukan hari Tasyriq pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah, dan memiliki keutamaan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani memberikan komentar dalam kitabnya Fathul Bari:
pertama, bahwa kemuliaan hari Tasyriq mengiringi kemuliaan Ayyamul ‘Asyr;
kedua, keduanya terkait dengan amal ibadah haji;
ketiga, bahwa sebagian hari Tasyriq adalah sebagian hari ‘Ayyamul ‘Asyr yaitu hari raya Idul Adha.

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari-hari dimana amal shalih paling utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah pada hari itu dengan Tahlil, Takbir dan Tahmid.” (HR Ahmad dan Al-Baihaqi)
Berkata imam al-Bukhari, ”Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir keduanya.”

2. Puasa sunnah, khususnya puasa sunnah ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah
Dari Abu Qatadah ra berkata, Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Arafah.Rasul saw menjawab, ”Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan
datang.” (HR Muslim)

3. Memperbanyak amal ibadah, karena pahalanya dilipatgandakan, seperti shalat, dzikir, takbir, tahlil, tahmid, shalawat, puasa infak dll.

Dari Jabir ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad di jalan Allah tidak sebaik itu?” Rasul saw. menjawab, ”Tidak akan sama jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).” (HR Al-Bazzar dengan sanad yang hasan dan Abu Ya’la
dengan sanad yang shahih)

4. Shalat ‘Idul Adha pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah)
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS al-Kautsar 2)
Di antara makna perintah shalat disini adalah shalat Idul Adha. Berkata Ar-Rabi’, “Jika engkau selesai shalat di hari Idul Adha, maka berkurbanlah.” Rasulullah bersabda:
Dari Abu Said berkata, “Rasulullah saw. keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha ke musholla. Yang pertama dilakukan adalah shalat, kemudian menghadap manusia – sedang mereka tetap pada shafnya- Rasul saw berkhutbah memberi nasehat dan menyuruh mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dari Ummi ‘Athiyah berkata, ”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi musholla.” (Muttafaq ‘alaihi)

5. Takbir dan berkurban di hari Tasyriq

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS Al-Baqarah)
Pada hari Tasyriq juga masih disunnahkan untuk berkurban. Rasulullah saw. bersabda,
“Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR Ahmad)

15 Nov 2009,(13:38)

Kamis, 05 November 2009

Rasa Sebuah Ketulusan

Seorang teman karib menghampiri meja kerja anda, dan
memungut sebatang pensil yang patah. Pintanya, "Boleh aku
pinjam ini?" Anda yang sibuk hanya menengok sekelebat dan
berkata, "Ambil saja." Setelah itu anda lupa akan kejadian
itu selamanya. Padahal bagi teman anda, pensil patah itu
amat berharga demi pengerjaan tugasnya.

Sahabatku, bagaimana "rasa" sebuah ketulusan? Setiap
dari kita pasti pernah memberikan sesuatu dengan setulus
murni. Namun, tidak banyak yang mampu memahaminya. Karena
ketulusan bukanlah rasa, apalagi untuk dirasa-rasakan.
Ketulusan adalah rasa yang tak terasa, sebagaimana kita
menyilakan teman dekat kita mengambil pensil patah anda.
Tiada setitik pun keberatan. Tiada setitik pun permintaan
terima kasih. Tiada setitik pun rasa berjasa. Semuanya
lenyap dalam ketulusan. Sayangnya tidak mudah bagi kita
untuk memandang dunia ini seperti pensil patah itu.
Sehingga selalu ada rasa keberatan atau berjasa saat kita
saling berbagi. Sayangnya tidak mudah juga untuk bersibuk-
sibuk pada keadaan diri sendiri, sehingga pensil patah pun
tampak bagai pena emas.
Jangan ingat-ingat perbuatan baik Anda. Kebaikan yang Anda letakkan dalam ingatan bagaikan debu yang tertiup angin.

trims,,,telah membacanya,,jazakallah,,,

buah karya;PURWO SUCAHYO

KEKUATAN PIKIRAN

catatan,Abu Rasyidah Judy Muhyiddin 01 November jam 20:16

Akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan dam karakter kita adalah lintasan pikiran yang bertebaran dalam benak. Lintasan pikiran itu menyerbu benak kita, maka ia berkemabang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan berkembang menjadi ide, atau gagasan, atau pikiran.

Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam diri kita, dalam wilayah emosi, dan membentuk keyakinan. Maka, keyakinan berkembang menjadi kemauan, dan secara perlahan, kemauan berkembang menjadi tekad. Begitu ia menjadi tekad, pikiran itu telah memperoleh energi atau tenaga agar ia terwujud dalam kenyataan.

Setelah itu tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakannya. Maka, lahirlah tindakan. Bila tindakan itu dilakukan berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan, dan bila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama, terbentuklah karakter.

Jadi, tindakan adalah output, sedangkan input-nya adalah pikiran.

Dalam diri kita, pikiran-pikiran itu mengalami proses pengelolaan yang rumit. Kita mempunyai pusat penyimpanan informasi yang bernama otak, yang meyerap informasi melalui proses penginderaan dan penalaran, untuk kemudian (berbagai informasi yang masuk) dikelola oleh akal. Di mana di sana terjadi proses pembenaran dan penyalahan, penerimaan dan penolakan, serta keyakinan dan keraguan. Secara sikuensial, kita mengalami proses memahami, memilih, memutuskan dan melakukan.

Seperti mekanisme kerja komputer, otak adalah tempat penyimpanan informasi (hardisk), sedangkan akal adalah instrumen pengelola informasi (prosessor). Output internalnya adalah kesadaran dan output ekternalnya adalah tindakan. Akal menentukan pilihan atas tindakan-tindakan yang secara sadar kita lakukan. Demikianlah, kita menyaksikan bagaimana kepribadian kita dibentuk dari sana: dari pikiran-pikiran kita.

SEKALI LAGI TENTANG LINTASAN PIKIRAN

Kita harus mendeteksi lintasan pikiran kita, sebab itulah benih dari setiap gagasan yang berkembang dalam benak kita. Kebaikan dan keburukan selalu bermula dari sana. (Di titik ini pula) setan memasuki manusia (yakni) dari pintu lintasan pikirannya. Jika kita tidak dapat mencegah lintasan-lintasan pikiran yang buruk, maka kita juga tidak akan dapat mencegah munculnya tindakan-tindakan yang buruk. Maka, berhati-hatilah terhadap semua lintasan pikiran kita.

Lintasan pikiran tidak bisa dimatikan. Ia menyerbu manusia dengan ribuan lintasan pikiran setiap saat, dan serbuannya begitu dahsyat. Yang dapat kita lakukan adalah mengalihkannya dan menggantikannya dengan lintasan-lintasan yang baik. Maka, kita harus belajar untuk memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan.

Kita harus dapat menjamin bahwa semua yang kita pikirkan adalah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan cara mengontrol semua informasi yang terserap dalam benak kita melalui panca indera, khususnya penglihatan dan pendengaran. Sebab, Allah SWT telah berfirman, “...sesungguhnya semua pendengaran, penglihatan dan akal akan dimintai pertanggung jawaban (di hari akhirat),” (QS. Al Isra: 36). Karenanya seleksilah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar.

Demikianlah, kualitas pikiran-pikiran kita akan membentuk kualitas kepribadian kita, dan kualitas kepribadian kita akan membentuk kualitas kehidupan kita.

Dari buku Anis Matta, “Delapan Mata Air Kecemerlangan”